Bagi anak-anak korban gempa, menghilangkan trauma tentu tak semudah orang dewasa.
|
|
(dok. Corbis) |
|
VIVAnews - Gempa yang mengguncang Sumatera Barat menyisakan trauma berkepanjangan bagi korban gempa. Bagi anak-anak korban gempa, menghilangkan trauma tentu tak semudah orang dewasa.
Psikiater anak dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ menilai anak-anak korban gempa dipastikan mengalami stres akut.
"Ini karena bencana yang mengancam keselamatan dan kehidupan si anak," kata dokter Tjhin usai Talkshow "Bagaimana Membentuk Seorang Anak Yang Sehat, Cerdas, dan Berkualitas" di Jakarta, Sabtu, 10 Oktober 2009.
Gempa telah mengubah kehidupan si anak mengingat semua hal di sekitarnya hancur, sekolah ambruk, tempat bermain tak ada lagi. Akibatnya perilaku dan kejiwaan bisa berubah drastis setelah gempa, terutama karena si anak tidak bisa beradaptasi dengan kondisi baru.
Untuk itulah peran orang tua sangat dibutuhkan untuk tetap menyeimbangkan kejiwaan si anak. Penanganan trauma memang membutuhkan tenaga medis, namun untuk keseharian, orang tua yang ambil peran.
Dalam hal ini, orang tua harus memberikan penjelasan bagaimana gempa itu terjadi dan pengaruhnya ke kehidupan si anak.
"Orangtua harus menjelaskan, bahwa gempa membuat ketidaknyamanan atas kehidupan si anak," ujar dokter Tjhin.
Namun orang tua harus bisa meyakinkan bahwa kehidupan si anak tidak akan berubah dan kalaupun terjadi bencana kembali orang tuanya akan berada di sekitarnya untuk menolongnya.
Paska gempa, orang tua harus bisa lebih memberikan rasa aman dan nyaman buat anak.
• VIVAnews